dua ribu jiwa lebih korban asap, sementara negara masih tenang-tenang saja

dua ribu jiwa lebih korban asap, sementara negara masih tenang-tenang saja

Saat ini terjadi hal yang menggugah rasa kemanusiaan , berdasar data paparan dari Kepala dinas kehutanan (Kadishut) Riau , Fadrizal labay seusai rapat koordinasi dangan Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan lahan di lapangan udara Roesmin Nurjadin Pekan Baru, pada Jum’at (4/9/2015) ,Ribuan hektar lahan di hutan terbakar , 12 perusahaan hutan tanaman industri (HTI) di riau terbakar dan menyebabkan pencemaran udara yang menyebabkan kabut asap pembakaran menyelimuti dan memperpendek jarak pandang di Pekan Baru.

hal ini membuat warga berhari hari menghirup udara pencemaran , hal ini juga sangat mengganggu kesehatan dan menjadi keluhan rata rata masyarakat riau , seperti yang di kutip pada  Facebook yang menginginkan pemerintah untuk cepat bertindak untuk mengatasi pencemaran udara dan kebakaran hutan tersebut

“Buat rekan-rekan sesama jurnalis, yang kebetulan baca pesan ini, terutama yang bertugas di Jakarta. Please, TOLONG bantu kami. Di Riau, ada jutaan manusia; tua,dewasa, muda, balita, hingga janin dalam kandungan, sedang mengap-mengap karena asap. Tidak ada udara segar, kami menghirup racun asap berhari-hari. Jangan hanya menulis soal Buwas, Luhut, rupiah anjlok apalagi seremonial Jokowi. Asap membuat kami mati hidup-hidup di sini. Bantu sebarkan penderitaan kami…please…asap bahkan masuk hingga ke kamar-kamar dimana anak kami berada. Sudah dua ribu jiwa lebih korban asap, sementara negara masih tenang-tenang saja… Huk…huk..huk…. “

status tersebut bisa anda lihat di sini https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10204765331428979&set=a.3503832990379.2131794.1108360493&type=1&theater

sementara itu Polda Riau telah menegaskan bahwa sebagai satuan penegak hukum akan menindak setiap pelaku pembakaran hutan , dan menyatakan tak akan tebang pilih dalam melakukan penindakan dan menangani kasud yang terjadi setiap tahun tersebut.

“Tidak ada yang dibeda-bedakan. Semuanya diproses kalau kedapatan membakar lahan dan hutan,” tukas Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo.

Menurut dia, pengungkapan korporasi yang diduga membakar lahan lebih sulit dari menangani petani. Selain butuh biaya besar, jangka waktunya panjang karena harus mendatangkan ahli lingkungan dan kehutanan.

“Ini yang menyebabkan penyidik membutuhkan waktu lama,” ucap Guntur.