hukum ucapan selamat hari valentine menurut islam

Kalau kita telisik dengan seksama istilah valentine memiliki latar belakang sejarah yang tidak sejalan dengan agama Islam. Istilah ini tidak terdapat dalam ajaran Islam, istilah valentine termasuk istilah yang datang dari luar Islam.

Kalau yang kita maksudkan ada istilah kasih sayang maka Islamlah jawabannya, tidak hanya kasih sayang antar sesama, akan tetapi kasih sayang terhadap binatang, kasih sayang terhadap tumbuhan atau apapun yang ada di antara lanigt dan bumi oleh Islam dianjurkan untuk bersikap kasih sayang dengan kapasitasnya masing-masing.

Cinta kepada Kekasih

Kasih sayang yang terjalin antar manusia laki-laki dan perempuan pun terdapat dalam ajaran islam, bahkan apabila seorang perempuan mencintai dan mengasihi orang yang dicintainya (suami) dengan sepenuh hati, maka Allah akan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada wanita tersebut.

Akan tetapi kasih sayang antara dua manusia laki-laki dan perempuan dalam Islam tidak sebatas mengungkapkan rasa cinta kepada orang lain dengan diembel-embeli hadiah atau kado, akan tetapi janji suci antara dua insan di depan dua orang saksi dan tidak hanya di depan kekasihnya tetapi di depan ayahnya (dalam hal ini adalah sebagai saksi) dalam ikatan suci yaitu suami isteri, dan ini lakukan sebagai bentuk ibadah atau penghambaan terhadap Allah SWT.

Dan apabila belum ada ikatan resmi yang halal, maka sis-sia saja curahan kasih sayang di antara mereka. Karena tidak menutup kemungkinan salah satu dari mereka masih bisa menghianati yang lainya, atau bahkan mungkin curahan kasih sayang keduanya akan menghantarkan kepada perbuatan maksiat, lebih parah lagi sampai kepada perzinaan.

Tidak sedikit remaja Islam yang tidak mengetahui sejarah dari hari valentine ini. Mereka hanya ikut-ikutan trend agar di katakan gaul, sehingga merekapun ikut-ikutan merayakan hari tersebut yang sebenarnya tidaklah pantas untuk mereka rayakan. Dalam peristiwa ini mereka laing meluapkan kasih sayang dengan orang yang mereka sukai, saling bertukar kado dan hadiah, baik itu cokelat, souvenir ataupun yang lainnya, namun pada intinya mereka tidak mengetahui kalau yang mereka lakukan sudah bersebarangan dengan ajaran Islam.

Secara singkat sejarah hari valentine dari berbagai sumber dan versi, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
  2. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya Santo Valentine.
  3. Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta, karena menentang peraturan kaisar yang diktator dengan tetap menikahkah sepasang kekasih, yang sebenarnya dilarang oleh sang kaisar.
  4. Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari .

Keterangan ini bukanlah keterangan yang diada-adakn, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan jelas bahwa perayaan hari valentine berdasar dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis dari Romawi kuno.

Ironis memang melihat kenyataan saat ini, para remaja muslim ikut-ikutan merayakan hari valentine yang dibungkus dan disamarkan dengan sebutan “hari kasih sayang”. Olehnya mengikuti ada yang memang benar-benar tidak tahu, ada yang tau namun menutup mata seolah-olah tidak tau, dan lebih ironis lagi mereka sengaja mengada-akan dasar pembenaran dalam mengikuti tradisi ini.

Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme. Bahkan secara tegas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Dalil ini sudah cukup sebagai alasan bahwa hukum merayakan hari valentine adalah haram, apa pun bentuk perayaannya, dan bagaimanapun alasan melakukannya.

Mengingat bahwa masalah ini bukanlah semata-mata budaya atau adat istiadat, melainkan terkait dengan masalah aqidah, maka umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain. Dalam hal ini jelas bahwa hukum memberi ucapan selamat ataupun hukum merayakan hari valentine menurut Islam adalah haram.

Sikap paling bijaksana dalam menghadapi situasi ini adalah sikap yang didasarkan pada Firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Kafirun:

Katakanlah: Hai orang-orang non muslim. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.

seksual lelaki dan perempuan