Transpalasi Ginjal? Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Praktek jual beli organ tubuh saat ini sedang maraknya diperbinacangkan, Seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, dr Rudi Wisaksana menyayangkan hal ini, praktik seperti adalah suatu kejahatan dan pelanggaran.

Memang ada beberapa Rumah Sakit yang melakukan praktik transplantasi ginjal, tetapi melalui prosedur yang jelas dan harus dijalani baik oleh si pendonor ataupun yang mendapatkan donor. Dengan melakukan pengujian terlebih dahulu, karena setiap orang memiliki daya tahan tubuh yang berbeda-beda.

Prosedur yang harus dilakukan adalah mewawancarai secara intensif dan menjalakan identifikasi kepada pendonor sebelum melakukan transplantasi dilakukan, dan tim dokter haru memastikan bahwa tdak ada unsur paksaan dari pihak yang mendonorkan. Baik paksaan itu datang dari dirinya sendiri ataupun dari orang lain atau dari luar.

Prosedur berikutnya dalah dengan memeriksa bahwa ginjal yang akan didonorkan tidak bermasalah alias dalam keadaan sehat dan layak untuk didonorkan, tidak mengidap penyakit yang menular atau penyakit berbahaya lainnya.

Setelah melakukan operasi donor ginjal, pendonor harus menjaga kesehatannya, karena ia hanya hidup dengan satu ginjal, selama ginjalnya dalam keadaan baik, maka ia akan baik-baik saja dan dapat bertahan hidup. Karena sebenarnya 10% ginjal  saja ginjal masih berfungsi dengan baik itu sudah cukup, namun apabila fungsinya nanti kurang dari 10% baru akan mengalami gejala permasalahan.

Biasanya permasalahan yang timbul setelah operasi donor ginjal adalah masa penyembuhan pendonor yang agak lama karena saat itu ia hanya memiliki satu ginjal.

Hukum Donor Ginjal Menurut Islam

Tersebut prosedur klinik dalam melakukan donor ginjal, lantas bagaimanakah hukum donor ginjal menurut islam? Berikut ulasannya. 

Memang sangat benar bahwa Islam memotivasi kita untuk menjaga kelestarian hidup bersama. Allah berfirman,

Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS. Al-Maidah: 32)

Dalam banyak hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memotivasi kita untuk senantiasa meringankan beban penderitaan orang lain,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang meringankan salah satu beban penderitaan seorang muslim di dunia, Allah akan ringankan beban penderitaannya di hari kiamat. (HR. Muslim 2699, Abu Daud 4946, dan yang lainnya).

Apapun bentuk kemanfaatan yang dapat kita berikan kepada orang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dorongan pada kita untuk memberikannya. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang bisa memberikan manfaat bagi saudaranya, hendaknya dia lakukan. (HR. Muslim 2199, Ahmad 14584, dan yang lainnya).

Berdasarkan dari beberapa dalil di atas, para ulama menyimpulkan bahwa donor ginjal, atau donor darah, termasuk amal besar yang bentuknya menolong orang lain.

Dr. Abdul Hayyi Yusuf – guru besar fakultas Tsaqafah Islamiyah di Khourtom University, Sudan – pernah ditanya tentang hukum donor ginjal, jawaban beliau,

Donor ginjal, bagi orang yang membutuhkan, termasuk amal soleh dan tindakan kebajikan.

Kemudian beliau menyebutkan beberapa dalil di atas. Kemudian beliau juga menyebutkan beberapa persyaratan donor ginjal.

Donor itu dibolehkan dengan syarat,

  1. Tidak boleh diperjual belikan;
  2. Ada dugaaan kuat, ginjal itu sangat bermanfaat bagi penerima
  3. Tidak menyebabkan ancaman yang membahayakan bagi pihak yang mendonor.

Jika ada orang yang dengan terpaksa harus membeli ginjal, sementara dia hanya bisa mendapatkannya hanya dengan membeli, tidak ada jalan lain kecuali memebeli, maka dia boleh membeli dan dosanya ditanggung oleh pihak yang menjual.

Mengapa Tidak Boleh Dijual?

Ketika seseorang melakukan donor salah satu bagian tubuhnya, darah, ginjal atau lainnya, maka dia sama sekali tidak diperbolehkan oleh agama untuk menjualnya, atau menetapkan harga tertentu.

Larangan tersebut dijelaskan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, kitab karangan beliau:

Tidak dibolehkan menjual anggota badan manusia secara mutlak, dengan alasan:

  1. Anggota badan bukan milik manusia pribadi, sehingga dia boleh seenaknya menjualnya. Demikian pula, anggota badan bukan milik ahli warisnya, sehingga mereka boleh seenaknya menjualnya setelah kalurganya wafat.
  2. Sesungguhnya anggoa badan manusia adalah barang mulia dan terhormat. Menjual benda semacam ini merusak kehormatan dan kemuliaannya.
  3. Jika manusia diizinkan melakukan jual beli anggota badannya, bisa jadi mereka akan berlomba menjual anggota badannya, tanpa memikirkan dampak buruk yanga akan dia dapatkan karena kesalahannya. Karena itu, wajib untuk mencegah jual beli semacam ini, dalam rangka menutup celah yang bisa mengantarkan kepada dampak buruk yang lebih besar.

Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 50060

Allah berfirman, memuliakan bani Adam,

Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al-Isra: 70)

Sekalipun anggota badan ini ada pada kita, bukan berarti kita dibolehkan memperlakukan semau kita. Karena kepemilikan ini dibatasi aturan. Orang tidak boleh bunuh diri atau menyakiti dirinya dengan alasan, ini badannya sendiri. Dan ini termasuk tindakan kriminal dalam islam.

Allahu a’lam.

donor ginjal menurut islam