ECCT alat terapi menyembuh kanker temuan warsito dari Indonesia

Kanker adalah salah satu penyakit mematikan yang banyak menjangkit di indonesia bahkan dunia, Kanker merupakan momok bagi semua orang, meurut data dari WHO di perkirakan tipa tahunnya penderita kanker bertambah sebanyak 12,7 juta jiwa , dan sedikitnya menyebabkan kematian pada 7,6 jt atau bila di rata rata sehari 21.000 penderita kanker meninggal dunia.

Di negara Indonesia sendiri banyak kendala pada penderita Kanker , mulai dari mahalnya biaya pengobatan hingga peralatan untuk penyembuhan kanker yang blm tersedia di rumah sakit , namu dengan keadaan tersebut memicu para pakar kedokteran di Indonesia untuk meneliti dan menciptakan perangkat atau peralatan penyembuh kanker.

dialah warsito P Taruno , seorang pakar tomografi lulusan jepang yang telah menciptakan alat terapi kanker yang diberi nama ECCT (Electro Capacitive Cancer Treatment) , namun Banyak kalangan kedokteran menganggap temuan ECCT ini tidak memiliki landasan ilmiah.

namun kemudian oleh Dr. dr. Sahudi Salim, SpB(K)KL, pada akhir masa pendidikan doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menjembatani dan meneruskan penbelitian alat penyembuh kanker ECCT tersebut dan membuktikan bahwa adanya peningkatan prosentase kematian sel yang diberi pajanan alat terapi kanker ECCT, serta mengungkap mekanisme patologi molekulernya.

“Kami melakukan penelitian eksperimental laboratorik in vitro, menggunakan Rancangan Acak Kelompok,” kata Sahudi.

Dia menambahkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pajanan medan listrik voltase rendah, dengan frekuensi menengah dari alat terapi kanker ECCT dan pengukuran variable yang dilakukan setelah pemberian perlakuan. Tiga macam kultur sel kanker yang digunakan adalah sel Hela, sel Kanker Rongga Mulut, dan sel Mesenkim Sumsum Tulang.

Sahudi menjelaskan bila sel kanker yang dipajan dengan ECCT selama 24 jam akan meningkatkan ekspresi tubulin A, cyclin B1, p53, dan Ki-67 secara signifikan dibandingkan dengan kontrol.

“Penelitian ini membuktikan bahwa ECCT dapat membunuh sel kanker secara signifikan, sedangkan sel non-kanker seperti sel mesenkim sumsung tulang masih dapat tetap hidup. Ini berarti penggunaan ECCT hanya akan membunuh sel kanker saja, tidak mengganggu kehidupan sel-sel lain yang dibutuhkan tubuh,” pungkas Sahudi.

Sahudi berharap penelitian lanjutan terhadap ECCT dapat lebih banyak dilakukan oleh peneliti kedokteran, karena memberikan harapan baru bagi penderita kanker.